Sudah beberapa hari terakhir ini Yogyakarta rutin diguyur hujan. Mulai hujan gerimis, biasa, sampai hujan deras dalam durasi yang cukup lama. Hujan tidak hanya mengguyur daerah perkotaan Yogyakarta namun demikian pula daerah lereng Merapi. Limpahan air hujan ini mengalir melalui sungai-sungai yang berhulu di kaki Gunung Merapi. Tak terkecuali Kali Code yang membelah perkotaan Yogyakarta lengkap dengan pemukiman padat di sepanjang sungai. Kondisi Kali Code sendiri masih dalam tahap rekonstruksi pasca banjir lahar dingin November lalu dan kini volume sedimentasi sepanjang Kali Code sudah cukup tinggi. Tentu saja hal ini mengakibatkan banjir lahar dingin yang makin parah dari hari ke hari setiap terjadi hujan deras dalam durasi yang cukup lama.
Tepatnya pada Minggu 20 Maret 2011 lalu, aku bersama teman-temanku Teknik Geodesi UGM melakukan survey untuk memantau kondisi Kali Code terkini mulai dari Penggal Utara hingga ke Penggal Selatan. Berdasarkan pantauan kami, kondisi banjir lahar dingin kali ini lebih parah dari peristiwa November lalu. Sedimentasi pasir Merapi sudah setara dengan talud-talud hampir di sepanjang Kali Code. Banjir menjangkau beberapa titik rawan pemukiman warga. Beberapa talud tampak makin keropos. Bahkan pasca banjir kami sempat menjumpai anak-anak yang bermukim di bantaran kali memanfaatkannya untuk bermain rafting menggunakan ban bekas karena Kali Code sangat dangkal dan arusnya cukup besar. Hemm anak-anak yang polos dan tetap ceria ditengah bencana...
Memang permasalahan Kali Code sangat kompleks, diperlukan solusi yang tepat dan tidak menambah masalah baru serta kerjasama yang baik warga dengan pemerintah. Semoga permasalahan ini dapat sesegera mungkin diselesaikan demi keselamatan warga Code dan kelestarian lingkungan kota Yogyakarta. :)
